Di zaman romawi kuno dahulu, Julius Caesar telah menggunakan teknik
kriptografi yang dijuluki caesar cipher untuk mengirim pesan secara rahasia,
meskipun teknik yang digunakannya sangat tidak memadai untuk ukuran kini.
Casanova menggunakan pengetahuan mengenai kriptografi untuk mengelabui Madame d'Urfe,
dia mengatakan kepada Madame d'Urfe bahwa sesosok jin memberi tahu kunci
rahasia Madame d'Urfe kepadanya, padahal ia berhasil memecahkan kunci rahasia
berdasarkan pengetahuannya mengenai kriptografi, sehingga ia mampu mengontrol
kehidupan Madame d'Urfe secara total. Sewaktu perang dunia kedua, pihak sekutu
berhasil memecahkan kode mesin kriptografi Jerman, Enigma; keberhasilan yang
sangat membantu pihak sekutu dalam memenangkan perang. Sejarah kriptografi penuh
dengan intrik dan banyak orang melihat kriptografi sebagai sesuatu yang penuh
dengan misteri.
Banyak orang yang menganggap pengetahuan dan penggunaan kriptografi sebagai
perbuatan subversif, bahkan Amerika Serikat pernah memperlakukan kriptografi sebagai
senjata yang tidak dapat diekspor secara bebas, meskipun sekarang peraturan
sudah diperlunak. Di satu sisi pemerintah AS tidak menginginkan warganya dan
pihak lain menggunakan kriptografi untuk berbagai macam keperluan, di sisi lain
kriptografi sangat diperlukan dalam aplikasi pengamanan teknologi informasi
seperti transaksi perbankan. Ada beberapa negara, baik negara belum maju yang
memiliki pemerintahan represif maupun negara barat yang “liberal", yang
melarang atau membatasi penggunaan kriptografi (Kromodimoeljo,
2010) .
Di era modernisasi saat ini, teknologi
telepon selular berkembang pesat. Salah satu bentuk perkembangannya adalah
dengan munculnya telepon pintar dengan sistem operasi Android yang memiliki beragam fitur menarik dan tingkat kompleksitas
yang hampir sama dengan komputer. Berbagai aplikasi pengiriman pesan secara online, seperti BlackBerry Messenger dan LINE sudah banyak digunakan. Salah satu
fitur yang selalu ada dan masih digunakan hingga saat ini adalah SMS (Layanan Pesan Singkat). Keamanan
bertukar informasi dan berkomunikasi sangat penting bagi semua orang. Untuk
itu, enkripsi terhadap SMS perlu
dilakukan untuk meningkatkan keamanan privasi pengguna dalam proses pengiriman
pesan dan informasi penting. Dari berbagai teknik enkripsi yang ada, enkripsi berlapis
dengan menggabungkan tiga algoritma enkripsi, yaitu Kode Caesar, Vigenere, dan
Transposisi dipilih sebagai metode dalam pengamanan SMS. Dengan meningkatkan jumlah lapisan dan pemanfaatan kunci unik
yang digunakan dalam proses enkripsi dan dekripsi diharapkan mampu mengurangi
jumlah penyadapan teks SMS yang sering terjadi saat ini (Subimawanto,
Ihsani, Hindharta, Kamu, & Pratama, 2014) .
Tabel 1. Protokol Umum Enkripsi
Akronim
|
Nama
|
Tipe
|
Digunakan untuk
|
Cara enkripsi
|
SSH
|
Secure Shell
|
Virtual Private Network
|
Remote access
|
RC4
|
IKE
|
Internet Key
Exchange
|
Authentication
|
Key exchange
|
MD5, SHA
|
SAKMP
|
Internet Security Association and Key Management Protocol
|
Authentication
|
Authentication
|
MD5, SHA
|
SSL
|
Secure
Sockets Layer
|
Encryption
|
WEB
|
RC4
|
WPA/WPA2
|
Wi-Fi Protected Access
|
Encryption
|
Wireless
|
AES, RC4
|
DSA
|
Digital
Signature Algorithm
|
Authentication
|
Digital
signature
|
SHA
|
SASL
|
Simple Authentication and Security Layer
|
Authentication
|
Authentication
|
MD5
|
PKI
|
Public Key
Infrastucture
|
Authentication
|
Key
management
|
MD5, Des
|
Dari tabel di atas kita dapat mengetahui
singkatan, nama, tipe, digunakan untuk apa, dan cara enkripsi yang digunakan. Menurut
tabel 1, cara enkripsi MD5 adalah cara enkripsi yang paling banyak digunakan,
tipe yang paling dominan ialah authentication
(pembukti keaslian) dan dari semua nama protokol umum enkripsi, kata key sering sekali muncul, yang berarti kebanyakan
dari protokol hanya memainkan key atau kata kunci yang bisa berupa kumpulan angka dan
huruf sebagai kunci utama untuk keamanan.
Penerapan kriptografi digunakan untuk memberikan keamanan pada dokumen
penting. Kriptografi terdiri dari proses ekripsi dan deskripsi. Enkripsi suatu dokumen
teks telah banyak diterapkan dengan berbagai macam metode untuk mengubah
dokumen asli menjadi dokumen yang terkunci, setiap metode/algoritma memiliki
tingkat kerumitan yang berbeda. Penerapan enkripsi yang terlalu mencolok dapat
mengundang peretas untuk berusaha
memecahkan
enkripsi tersebut. Artikel ini mengembangkan pendekatan untuk penerapan
enkripsi pada kriptografi suatu dokumen teks dalam bahasa Indonesia dengan
mengenkripsi dokumen teks asli ke bentuk dokumen teks yang mengandung
kata/kalimat lain dengan tingkat kemiripan tertentu. Penerapan enkripsi ini,
diharapkan menjadi lebih efektif dan tidak menarik perhatian peretas, karena
pada penelitian ini enkripsi yang dihasilkan masih berbentuk teks
dokumen utuh,
tetapi memiliki makna yang berbeda dengan dokumen aslinya. (Purnamasari, Wicaksana, Lintang,
Annassia, & Gustin, 2014) .
Enkripsi digunakan untuk menyandikan data-data atau informasi sehingga
tidak dapat dibaca oleh orang yang tidak berhak. Dengan enkripsi data anda
disandikan (encrypted) dengan
menggunakan sebuah kunci (key). Untuk
membuka (decrypt) data tersebut
digunakan juga
sebuah kunci
yang sama dengan kunci untuk mengenkripsi (untuk kasus private key
cryptography) atau dengan kunci yang berbeda (untuk kasus
public key cryptography). Algoritma
dari enkripsi adalah fungsi yang digunakan untuk melakukan enkripsi dan
dekripsi. Algoritma yang digunakan menentukan kekuatan dari enkripsi, dan ini
biasanya
dibuktikan dengan basis matematika (Sasongko, 2005) .
Berbagai cara telah dikembangkan untuk melindungi data dari pihak-pihak
yang tidak berhak. Salah satu teknik yang dipakai adalah dengan menggunakan
kriptografi (cryptography), yaitu
ilmu yang menyandikan suatu data menjadi kode tertentu yang sulit dimengerti.
Dengan menggunakan kriptografi data asli yang dikirim (plaintext) diubah ke dalam bentuk data tersandi (ciphertext), kemudian data tersandi
tersebut dapat dikembalikan ke bentuk data sebenarnya hanya dengan menggunakan
kunci (key) tertentu yang hanya
dimiliki oleh pihak yang sah saja (Dafid, 2006) .
Daftar Pustaka
Dafid 2006, 'Kriptografi Kunci Simetris dengan Menggunakan
Algoritma Crypton', Jurnal Ilmiah STMIK
GI MDP, (p.
20), viewed 08 Mei 2016, http://eprints.mdp.ac.id/545/1/Jurnal%20Kriptografi%20Kunci%20Simetris.pdf.
Kromodimoeljo, S. 2010, Teori dan
Aplikasi Kriptografi, SPK IT Consulting, Jakarta, viewed 08 Mei 2016, http://download833.mediafire.com/iprbwcwhsbig/fxrzj3zug6u1t2u/TeoridanAplikasiKriptografi.pdf.
Purnamasari, D., Wicaksana, I. S., Lintang,
A., Annassia, A., & Gustin, H. 2014, 'Penerapan
Sematic Similarity pada Kriptografi suatu Dokumen Teks dalam Bahasa Indonesia', Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan
Sistem Intelijen (p. 180), Universitas Gunadarma, Depok, viewed 08 Mei 2016,
http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/kommit/article/download/1031/893.
Sasongko, J. 2005, 'Pengamanan Data Informasi Menggunakan Kriptografi
Klasik', Jurnal Teknologi Informasi DINAMIK,
160-167, viewed
08 Mei 2016, http://download.portalgaruda.org/article.php?article=7371&val=544.
Subimawanto, D., Ihsani, F., Hindharta, J.,
Kamu, M. C., & Pratama, V. A. 2014, 'Implementasi
Algoritma Kriptografi Kode Caesar, Vigenere, dan Transposisi untuk Sistem
Proteksi Penggunaan Pesan Singkat (SMS) pada Smartphone Android', Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan
Sistem Intelijen (p. 146), Universitas Gunadarma, Depok, viewed 08 Mei 2016,
http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/kommit/article/download/1027/924.
No comments:
Post a Comment